Menjadi media musik independen bukan cuma soal menulis tentang rilisan terbaru, atau memotret band-band lokal di gigs yang dipenuhi asap rokok dan aroma kopi sachet. Ini adalah tentang keinginan sederhana untuk mencatat denyut kecil dari skena musik yang sering terlewatkan, tempat di mana musik hidup dari idealisme bukan dari angka algoritma.
Sisi “Suka”
Ada rasa hangat ketika sebuah band kecil mengucapkan terima kasih karena ulasan sederhana membuat mereka semangat lagi. Ada kepuasan saat menemukan musisi brilian dari kota kecil dan berpikir, “Orang-orang harus dengar ini.” Ada juga kebanggaan tersendiri ketika tulisan kecil dibaca banyak orang tanda bahwa masih ada yang peduli pada musik yang tumbuh dari ruang-ruang kecil penuh mimpi itu.
Sisi “Duka”
Namun jalan media independen tak pernah mudah. Tak ada anggaran besar, tak ada sponsor tetap, bahkan kata “terima kasih” pun kadang terasa mahal.
Sering kali kami menulis, mengulas, dan mempublikasikan rilisan tanpa imbalan apa pun, karena bagi sebagian musisi, membayar media terasa di luar kemampuan mereka. Padahal, sekadar membalas pesan atau mengucap “terima kasih” bisa menjadi bentuk penghargaan kecil yang sangat berarti. Apalagi kalau bicara soal uang itu hampir mustahil disentuh.
Karena itulah beberapa media independen akhirnya mulai menetapkan biaya publikasi. Bukan karena haus uang, tapi karena sadar bahwa:
> Segala hal yang dikerjakan dengan hati pun tetap butuh logistik untuk bertahan.
Ada domain yang harus dibayar, ada waktu dan tenaga yang dikorbankan, ada kopi yang diseduh di malam- malam panjang menulis ulasan.
Biaya itu bukan harga dari tulisan, tapi bentuk penghargaan terhadap kerja, waktu, dan dedikasi di balik layar.
Namun mungkin di sanalah letak maknanya. Menjadi media musik independen berarti tetap jujur pada musik, idealisme, dan diri sendiri.
Tidak semua tulisan harus viral. Tidak semua rilisan harus ramai. Kadang cukup satu karya yang tulus, satu band yang jujur, dan satu pembaca yang tersentuh dan itu sudah cukup jadi alasan untuk terus menulis.
Kolaborasi Bersama All About Hip-Hop:
Woddup homie!
Kenalin gue Muhammad Nuryayi, admin dari All About Hip-Hop. Gue mau cerita sedikit soal lika-liku jadi media independen.
Seperti pepatah bilang: “Tidak ada harta karun yang didapat cuma-cuma, pasti ada rintangan yang harus dilewati.”
Sebagai media yang minim sponsor, kita harus struggle sepuluh kali lipat dibanding media besar. Tapi ya begitulah, dulu pun mereka memulai dari bawah seperti kita. Kadang kami juga harus PDKT ke artis besar biar dapet banyak views dan memperluas jangkauan. Alhamdulillah, kalau artikel kami diterima dengan baik, efeknya bisa besar banget buat kami.
Sedikit flashback: sebelum bikin media, gue juga seorang rapper. Lima tahun gue aktif di dunia hip-hop, tampil di atas panggung adalah momen paling gila dalam hidup gue. Gue ini extrovert banget, dan jujur aja dulu sempet kena star syndrome wkwk.
Ada kisah lucu sebelum media ini lahir. Waktu itu gue pengen banget karya gue dimuat di akun @HipHopIndonesia, ngeliat temen-temen rapper pada diangkat sama media itu. Akhirnya gue mikir, “Yaudah deh, gue bikin media sendiri, bahas karya gue sendiri aja dulu.” 🤣
Dari situ gue mulai seriusin medianya. Gue mulai nulis artikel buat temen-temen gue, bantu promosiin artis lokal yang butuh wadah. Dan lucunya, sekarang admin HipHopIndonesia malah jadi temen sharing gue sendiri!
Pada akhirnya, baik Tinta Kusamku, All About Hip-Hop, maupun banyak media independen lainnya, lahir dari satu hal yang sama:
> Cinta pada musik, dan pada cerita-cerita di baliknya.
📌 Tentang Media:
Tinta Kusamku
📧 Email: kusamredaksi@gmail.com
📸 Instagram: @mediatintakusamku
All About Hip-Hop
📧 Email: kadekadekadekang@gmail.com
📸 Instagram: @everything.about.hiphop
0 Komentar