Setiap sudut dipenuhi suara, lagu baru, potongan video, kampanye, snippet, cuplikan behind the scene yang bahkan belum sempat jadi karya utuh.
Semua orang berbicara. Semua ingin didengar.
Tapi di antara hiruk-pikuk itu, aku jarang mendengar siapa pun benar-benar mendengarkan.
Musik seharusnya tentang keterhubungan, antara hati pembuat dan hati pendengar.
Namun kini, rasanya semua berlari mengejar tampilan, bukan pesan.
Lagu dibuat untuk menembus algoritma, bukan untuk menyentuh seseorang.
Kita menciptakan nada untuk didengar banyak orang,
tapi kadang lupa bertanya: apakah masih ada yang mendengarkan dengan hati?
Semua berlomba bicara lewat lagu.
Setiap rilis disertai kalimat, “semoga bisa relate,” tapi diam-diam berharap “semoga bisa viral.”
Musisi berlomba memperkenalkan karya, tapi pendengar sibuk menelan ratusan lagu dalam sehari hanya sekilas, lalu berpindah.
Musik menjadi sekadar konten sementara, bukan pengalaman batin.
Ironisnya, di antara para musisi sendiri pun terjadi hal yang sama.
Kita saling memuji, tapi jarang benar-benar mendengarkan.
Saling menonton, tapi tidak saling memahami.
Semuanya sibuk mengunggah karya baru, tapi tak banyak yang berhenti sejenak untuk mendengar karya orang lain dengan tenang tanpa niat membandingkan, tanpa niat membuktikan diri lebih baik.
Padahal dulu, mendengarkan musik adalah ritual kecil yang sakral.
Kita duduk diam, memutar kaset atau piringan, menutup mata, lalu membiarkan lirik dan melodi menyentuh sesuatu yang lembut di dalam diri.
Sekarang, musik seringkali hanya menjadi latar: untuk bekerja, makan, jalan, atau sekadar pengisi waktu.
Kita tak lagi menunggu lagu dimulai kita menggulirnya begitu cepat, mencari potongan yang paling catchy agar bisa diunggah ulang.
Di tengah kebisingan ini, aku kadang bertanya:
apakah masih ada ruang bagi musik yang tak ingin berteriak?
Bagi lagu yang tak dibuat untuk menembus trending,
melainkan untuk menemani seseorang di malam yang sepi?
Karena kalau semua ingin didengar,
dan tak ada yang mau mendengarkan,
maka musik kehilangan fungsinya yang paling manusiawi
menyembuhkan.
Mungkin kita perlu belajar diam sebentar.
Belajar mendengar tanpa niat menilai.
Belajar menikmati karya tanpa tergesa menekan tombol next.
Musik bukanlah kompetisi untuk jadi yang paling nyaring.
Musik adalah bahasa hati yang paling lembut dan hanya bisa dimengerti oleh mereka yang mau diam sejenak untuk benar-benar mendengarkan.
Kadang, yang paling nyaring bukan musiknya,
tapi keinginan kita untuk diakui.
Tentang Kami:
Email: @kusamredaksi@gmail.com
Instagram: @mediatintakusamku
0 Komentar