DADLINE:“DADLINE & DEADLINES” Potret Jujur Kehidupan Dewasa dalam Balutan Dardcore Punk

   DADLINE

Memasuki fase hidup yang semakin kompleks, di mana tanggung jawab tak lagi sekadar tentang diri sendiri, Dadline hadir membawa suara yang terasa dekat, jujur, dan apa adanya. Band ini resmi merilis EP perdana bertajuk “Dadline & Deadlines” pada 12 Desember 2026, sebuah karya yang menangkap kegelisahan, kelelahan, harapan, dan pertanyaan eksistensial yang kerap menghantui kehidupan dewasa.

Dadline lahir dari keresahan para anggotanya yang kini berada di usia kepala tiga. Mereka adalah pekerja, ayah, sekaligus bagian dari generasi “sandwich” yang terhimpit antara tanggung jawab ke atas dan ke bawah. Awalnya, Dadline hanya menjadi ruang pelarian tempat bernapas sejenak dari tekanan hidup sehari-hari. Namun seiring waktu, ruang itu berkembang menjadi proyek musik yang serius, jujur, dan penuh makna, tempat setiap anggotanya bisa mengekspresikan diri tanpa topeng.

🎶 Dardcore Punk: Punk yang Tumbuh Bersama Usia

Secara musikal, Dadline memperkenalkan identitas yang mereka sebut Dardcore Punk.

“Kami ngide aja ngasih genre sendiri, Dardcore Punk,”

— Fauzan Romadhon

Dardcore Punk adalah pendekatan punk yang lebih dewasa dan reflektif tetap bertenaga, namun membumi pada realitas hidup. Warna ini diperkaya oleh pengaruh Japanese Punk (J-Punk), yang dikenal dengan melodi emosional serta narasi lugas dan menyentuh. Perpaduan tersebut menciptakan karakter musik Dadline yang keras tapi hangat, sederhana tapi sarat makna.

Identitas inilah yang menjadi fondasi “Dadline & Deadlines”, EP berisi tiga lagu yang masing-masing merepresentasikan fase kegelisahan dan dinamika emosi dalam kehidupan dewasa.

💿 Tentang “Dadline & Deadlines”:

   ARTWORK DADLINE & DEADLINES

EP ini berisi tiga nomor yang saling terhubung secara emosional, membentuk satu rangkaian cerita tentang pikiran yang lelah, pilihan hidup, hingga pertanyaan besar tentang eksistensi manusia.

1. “Late Night Overdrive”
(Ciptaan: Tryas Lazuardy)

Lagu ini berbicara tentang kegaduhan pikiran di tengah malam saat tubuh ingin beristirahat, namun pikiran terus bekerja.

“Lagu ini menceritakan tentang gangguan dalam pikiran menjelang tengah malam yang membuat waktu istirahat menjadi terganggu. Ada sesuatu yang tertahan, perasaan bersalah, yang akhirnya harus diungkapkan dan bermuara pada penerimaan,”

— Tryas Lazuardy

2. “When The Sky Stopped Being Blue”

Lagu reflektif yang mempertanyakan pilihan hidup. “Apakah jalan yang dipilih ini adalah yang terbaik dari segala kemungkinan?”

— Tryas Lazuardy

Melalui analogi langit yang dulu cerah lalu berubah menjadi berat dan penuh tekanan, lagu ini menggambarkan fase hidup ketika harapan masa depan menjadi satu-satunya alasan untuk terus berjalan dan bertahan.

3. “First Day of The End”
(Ciptaan: Fauzan Romadhon)

Lagu paling eksistensial di EP ini, mempertanyakan makna kelahiran, kehilangan, dan kemungkinan pertemuan kembali di kehidupan berikutnya.

“Kenapa kita harus lahir di dunia? Kenapa harus melalui kehilangan? Dan apakah mungkin kita bertemu lagi dengan orang-orang tersayang di kehidupan berikutnya?”

— Fauzan Romadhon

🎬 Proses Produksi dan Visual:


Proses produksi “Dadline & Deadlines” berlangsung selama kurang lebih tiga bulan, dikerjakan di sela-sela kesibukan pekerjaan utama masing-masing anggota. Tantangan teknis maupun non teknis menjadi bagian tak terpisahkan, namun semangat mengejar deadlineyang juga menginspirasi nama band menjadi pemantik utama hingga EP ini rampung.

EP ini diproduseri oleh Pemil Kabahtullah dan direkam di Benji Studio.

Dari sisi visual, artwork EP menggunakan foto yang diambil di sebuah pasar ikan di Washington DC. Visual tersebut dipilih sebagai metafora perjuangan Dadline sendiri: keras, nyata, penuh kerja, namun tetap bergerak maju sebuah simbol untuk tetap jujur, kuat, dan berjalan meski hidup tak selalu mudah.

Melalui EP ini, Dadline berharap karya mereka dapat menjadi teman seperjalanan bagi siapa pun yang sedang berada di fase hidup yang berat sebagai ruang pelarian, media penyaluran emosi, atau sekadar pengingat bahwa ketidakpastian hidup bukanlah sesuatu yang harus dihadapi sendirian.

Menuju 2026, Dadline berencana untuk tetap produktif dengan merilis single-single baru serta memperluas eksplorasi Dardcore Punk yang semakin matang dengan sentuhan J-Punk yang lebih dalam.

🙍 Tentang Dadline:


Dadline adalah band punk asal Indonesia yang lahir dari kegelisahan kehidupan dewasa. Dibentuk oleh para musisi yang memasuki usia kepala tiga, Dadline menjadikan musik sebagai ruang bernapas di tengah peran mereka sebagai pekerja, ayah, dan bagian dari generasi sandwich. 

Mengusung identitas Dardcore Punk, Dadline memadukan energi punk dengan refleksi hidup yang jujur dan membumi, diperkaya pengaruh Japanese Punk yang emosional dan lugas. Melalui lirik-lirik personal dan aransemen yang apa adanya, Dadline berbicara tentang kelelahan, harapan, kehilangan, dan upaya untuk tetap bertahan di tengah tekanan hidup modern.

🎧 Dengarkan Sekarang:

Ep “Dadline & Deadlines” resmi dirilis pada 12 Desember 2025 dan kini dapat didengarkan di seluruh platform musik digital: Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan lainnya.

📎 Kredit Album:

● Album: Dadline & Deadlines
● Artis: Dadline
● Penulis Lagu: Tryas Lazuardy, Fauzan Romadhon
● Aransemen: Tryas Lazuardy, Fauzan Romadhon, Fahri Dwisetya, Rezky Pratama
● Produser: Pemil Kabahtullah
● Recording: Benji Studio
● Mixing/Mastering: Pemil Kabahtullah
● Genre: Dardcore Punk
● Label: Dadline Record
● Tanggal Rilis: 12 Desember 2025
● Artwork Photo: Washington DC Fish Market

📩 Kontak & Media Sosial:

● Cp: Pojan
● Email: hellodadline@gmail.com
● Instagram: dadline__
● TikTok: Dadline___




Tentang Kami:
Email: @kusamredaksi@gmail.com
Instagram: @mediatintakusamku




Posting Komentar

0 Komentar