Di kota-kota besar, hidup sering kali berjalan dengan ritme yang sama: bangun pagi sebelum matahari sepenuhnya naik, menembus kemacetan, duduk di balik meja kerja, mengejar tenggat waktu, lalu pulang dengan kepala penuh pikiran yang belum selesai.
Rutinitas ini berulang setiap hari, hingga tanpa disadari mimpi-mimpi yang dulu terasa dekat perlahan berubah menjadi bayangan samar. Dari ruang inilah Deadline/Daydreams lahir, sebuah band yang menjadikan kegelisahan hidup kelas pekerja urban sebagai bahan bakar utama karya mereka.
Lewat single perdana bertajuk “9 To 5 Dreams”, Deadline/Daydreams memperkenalkan diri bukan sebagai band yang menawarkan pelarian semu, melainkan sebagai suara yang merekam kelelahan kolektif: tentang bekerja demi bertahan hidup, dan bermimpi hanya untuk melupakan sejenak kenyataan.
💿 Tentang “9 To 5 Dreams”:
Dirilis pada 11 Desember 2025, “9 To 5 Dreams” menjadi pernyataan awal yang tegas dari Deadline/Daydreams. Lagu ini mengangkat tema burnout akibat pekerjaan korporat sebuah kondisi yang semakin akrab bagi generasi pekerja modern, namun jarang dibicarakan secara jujur dan apa adanya.
Secara naratif, lagu ini menceritakan tentang seseorang yang terjebak dalam perlombaan tanpa akhir: bangun, bekerja, pulang, tidur, lalu mengulanginya lagi. Tidak ada ledakan dramatis, tidak ada tragedi besar, hanya kelelahan yang menumpuk perlahan hingga menggerogoti identitas diri. Di tengah rutinitas tersebut, muncul pertanyaan yang kerap dipendam: “Apakah ini hidup yang benar-benar aku pilih?”
Namun “9 To 5 Dreams” tidak berhenti pada romantisasi keinginan untuk keluar dari sistem. Lagu ini justru menyentuh sisi yang lebih jujur dan pahit: kesadaran bahwa meninggalkan pekerjaan yang menguras jiwa sering kali hanyalah mimpi. Bukan karena kurangnya keberanian, tetapi karena kecemasan akan masa depan, tentang kestabilan finansial, tanggung jawab, dan ketakutan akan kegagalan terasa jauh lebih nyata dan menakutkan.
Secara musikal, “9 To 5 Dreams” dibalut dengan nuansa alternative rock yang melankolis namun tetap membumi. Distorsi gitar hadir bukan sebagai agresi, melainkan sebagai luapan emosi yang tertahan. Groove bass dan drum mengalir stabil, mencerminkan monotoninya rutinitas harian, sementara vokal disampaikan dengan nada reflektif tidak berteriak, namun cukup tajam untuk menusuk perasaan pendengar. Lagu ini terasa seperti monolog batin yang akhirnya berani diucapkan dengan suara keras.
🎶 Rencana Rilisan:
“9 To 5 Dreams” bukan proyek tunggal yang berdiri sendiri. Single ini menjadi pembuka dari rangkaian perjalanan musikal Deadline/Daydreams, dengan tiga single tambahan yang dijadwalkan rilis secara bertahap dalam enam bulan ke depan.
Setiap rilisan direncanakan saling terhubung, membentuk narasi utuh tentang kegelisahan hidup, pencarian identitas, serta konflik batin antara idealisme dan realitas. Deadline/Daydreams ingin membangun cerita secara perlahan memberi ruang bagi pendengar untuk tumbuh bersama lagu-lagu mereka, alih-alih sekadar merilis karya tanpa konteks emosional yang jelas.
🙍 Tentang Deadline/Daydreams:
Deadline/Daydreams adalah band yang berbasis di wilayah Jabodetabek, beranggotakan Diko, Ragadipa, Dacung, dan Tommy. Di luar musik, keempatnya menjalani kehidupan yang nyaris seragam: pekerja korporat dengan rutinitas padat, target yang terus bertambah, dan ruang ekspresi yang semakin sempit.
Band ini lahir dari rasa keterasingan yang sama perasaan bahwa ada begitu banyak hal yang ingin diucapkan, namun tidak memiliki ruang untuk disampaikan. Deadline/Daydreams kemudian menjadi wadah kolektif untuk meluapkan emosi yang terpendam: frustrasi, kecemasan, kemarahan yang dipendam rapi, hingga mimpi-mimpi yang tak sempat diwujudkan.
Musik bagi mereka bukan sekadar hobi atau ambisi popularitas, melainkan mekanisme bertahan hidup. Sebuah ruang aman untuk jujur, tanpa topeng profesionalisme dan basa-basi sosial.
Secara musikal, Deadline/Daydreams meramu pengaruh dari berbagai era dan lintas budaya. Seattle Grunge memberi warna mentah dan emosional, Madchester menghadirkan groove yang mengalir, sementara Britpop menyumbang sensibilitas melodi yang mudah dicerna namun tetap reflektif. Pengaruh J-Pop dan Pop Punk turut membentuk pendekatan mereka dalam penulisan lagu langsung, emosional, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Deadline/Daydreams tidak mencoba tampil sebagai band dengan pesan besar atau solusi instan. Mereka justru berdiri di posisi yang sangat manusiawi: mengakui bahwa tidak semua mimpi bisa langsung diwujudkan, dan tidak semua luka bisa segera disembuhkan.
🎧 Dengarkan Sekarang:
Single “9 To 5 Dreams” Tersedia di seluruh platform digital streaming, termasuk: Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan platform musik digital lainnya.
📎 Kredit Lagu:
● Judul: 9 to 5 Dreams
● Artis: Deadline/Daydreams
● Rilis: 10 December 2025
● Ciptaan: Deadline/Daydreams (Dacung/Diko/Ragadipa/Tommy)
● Aransemen: Deadline/Daydreams (Dacung/Diko/Ragadipa/Tommy)
● Genre: Alternative Rock
● Produser: Deadline/Daydreams
● Mixing & Mastering: Defendi
● Label: Independen
📩 Kontak & Media Sosial:
● Cp: Ragadipa
● Email: deadlinedaydreams@gmail.com
● Instagram: @deadlinedaydreams
Tentang Kami:
Email: @kusamredaksi@gmail.com
Instagram: @mediatintakusamku
0 Komentar