Sejak awal, “Dzarrah” tidak pernah berniat untuk menyenangkan. Lagu ini bergerak dengan tempo yang terukur, menolak ledakan cepat yang lazim dalam hardcore. Riff gitar dibiarkan berulang, kaku, dan tajam seperti mantra yang terus diulang hingga kehilangan makna literalnya dan berubah menjadi tekanan psikologis. Di sinilah kekuatan utama MATRIARCH bekerja: mereka memahami bahwa repetisi bukanlah kemalasan, melainkan alat untuk membangun rasa tak nyaman.
Sejak awal, “Dzarrah” tidak pernah berniat untuk menyenangkan. Lagu ini bergerak dengan tempo yang terukur, menolak ledakan cepat yang lazim dalam hardcore. Riff gitar dibiarkan berulang, kaku, dan tajam seperti mantra yang terus diulang hingga kehilangan makna literalnya dan berubah menjadi tekanan psikologis. Di sinilah kekuatan utama MATRIARCH bekerja: mereka memahami bahwa repetisi bukanlah kemalasan, melainkan alat untuk membangun rasa tak nyaman.
💿 Tentang Dzarrah:
Secara musikal, gitar dalam “Dzarrah” berfungsi lebih sebagai pencipta lanskap ketimbang pembawa melodi. Distorsi yang digunakan terasa padat namun tidak liar, disetel untuk menjaga tekstur tetap gelap dan tertutup. Setiap petikan dan hentakan riff seolah mengikis ruang, menyisakan kehampaan yang dingin. Tidak ada ruang heroik bagi gitar untuk bersinar yang ada hanyalah bunyi yang bekerja sebagai beban.
Permainan drum hadir sebagai tulang punggung yang dingin dan disiplin. Ritme tidak bergerak agresif, tetapi konsisten dan menekan, seperti langkah berat menuju sesuatu yang tak bisa dihindari. Ketukan-ketukan ini tidak mengajak pendengar untuk menghentakkan kepala, melainkan memaksa mereka untuk bertahan di dalam ketegangan yang berlarut. Dinamika drum menjadi penanda waktu bahwa lagu ini berjalan, meski seolah tidak menuju ke mana pun.
Vokal Faiq Ulul ‘Azmi tidak diposisikan sebagai pusat narasi. Ia hadir seperti suara dari dalam kepala kadang menggeram, kadang terdengar seperti teriakan yang tertahan di tenggorokan. Penyampaian vokal yang minim ornamentasi ini justru mempertegas nuansa terasing dan tertekan. Lirik tidak disampaikan untuk dimengerti sepenuhnya, melainkan untuk dirasakan sebagai fragmen emosi.
Pendekatan lirik “Dzarrah” secara sadar menolak kejelasan. Tidak ada cerita linear, tidak ada pesan yang dirumuskan secara eksplisit. Yang tersisa hanyalah simbol-simbol tentang akhir, kehampaan, dan sisa-sisa yang tertinggal setelah kehancuran. Lagu ini tidak menawarkan katarsis—ia hanya menyodorkan cermin yang buram, memantulkan kegelisahan pendengar dengan cara yang personal.
🎶 Nuansa Musikal:
Nuansa musikal yang dingin dan menekan tersebut kemudian menemukan medium visual yang sepadan. Video musik “Dzarrah” digarap dengan pendekatan Noir dan Surealis, menampilkan potongan-potongan visual yang lebih terasa seperti ingatan yang rusak ketimbang cerita utuh. Warna-warna gelap, kontras tinggi, dan minim cahaya menciptakan atmosfer yang terasa hampa, hampir nihilistik.
Tidak ada upaya untuk menjelaskan apa yang terjadi di dalam video ini. Setiap adegan berdiri sebagai simbol fragmen emosi yang terpisah namun saling mengikat. Seperti lagunya, MV ini menolak narasi tunggal. Penonton tidak diarahkan untuk memahami, melainkan untuk tenggelam dalam suasana yang diciptakan.
Keterhubungan antara musik dan visual terasa organik. Ritme lagu menentukan tempo gambar, sementara ruang-ruang kosong dalam aransemen diberi napas lewat visual yang sunyi dan statis. Hasilnya adalah sebuah karya audiovisual yang berjalan pelan, dingin, dan menekan namun konsisten dari awal hingga akhir.
“Dzarrah” juga dapat dibaca sebagai pernyataan sikap MATRIARCH terhadap musik keras itu sendiri.
Di saat banyak band memilih jalan konfrontatif dan eksplosif, MATRIARCH justru memeluk kegelapan yang pasif, hampir apatis. Mereka tidak berteriak untuk didengar; mereka berbisik, dan membiarkan bisikan itu menetap lebih lama.
Jika single debut mereka, “Nafarkana”, menjadi pintu masuk bagi identitas MATRIARCH, maka “Dzarrah” adalah lorong sempit setelahnya lebih gelap, lebih sunyi, dan jauh lebih personal. Lagu ini menunjukkan kedewasaan dalam memahami dinamika, ruang, dan atmosfer, sekaligus keberanian untuk menahan diri.
🙍 Tentang Matriarch:
MATRIARCH adalah band dari skena musik heavy yang membangun identitas melalui riff gitar intens, ritme dinamis, dan vokal ekspresif. Dibentuk oleh:
Faiq Ulul ‘Azmi — Vokal
Fikri Fahmi — Gitar
Muhamad Ferika — Drum
MATRIARCH lahir dari proses eksplorasi panjang, bereksperimen dengan berbagai ide dan pendekatan musikal sebelum menemukan bentuk yang paling jujur. Musik mereka tidak hanya berangkat dari kemarahan, tetapi juga dari refleksi, keterasingan, dan tekanan batin.
Perilisan single debut “Nafarkana” pada Agustus lalu menjadi langkah awal mereka dalam memperkenalkan karakter musikal yang gelap dan intens. Melalui “Dzarrah”, MATRIARCH melangkah lebih jauh meninggalkan agresi mentah, dan memilih membangun kegelapan yang lebih terkontrol dan konseptual.
🎧 Dengarkan Sekarang:
MV “Dzarrah” kini telah tersedia dan dapat disaksikan melalui kanal YouTube resmi MATRIARCH, menjadi satu kesatuan penting dalam perjalanan artistik mereka.
📎 Kredit Lagu:
● Judul: Dzarrah
● Artis: MATRIARCH
● Rilis: Music Video
● Ciptaan: Matriarch
● Aransemen: Fikri Fahmi
● Genre: Hardcore
● Produser: Fikri Fahmi
● Mixing & Mastering: Fikri Fahmi
● Label: MATRIARCH RECORDS
📩 Kontak & Media Sosial:
● Cp : 085135969186
● Email : matriarchcvlt@gmail.com
● Instagram : @matriarchcvlt
Tentang Kami:
Email: @kusamredaksi@gmail.com
Instagram: @mediatintakusamku
0 Komentar