Ada karya yang lahir tepat pada waktunya. Ada pula karya yang harus menunggu bertahun-tahun sebelum akhirnya menemukan jalan untuk kembali hidup, Karya ini lahir dari periode yang berbeda. Ia melewati perubahan personel, kehilangan, kegagalan, vakum panjang, hingga akhirnya kembali dikerjakan oleh generasi formasi baru. Karena itu, “Crawling 2” terasa seperti pertemuan antara masa lalu dan masa kini.
Bagi D.B.D, “Crawling 2” adalah bagian dari cerita yang kedua. Single bergenre Alternative/Nu Metal/Rap Rock ini menjadi penanda kebangkitan proyek musik independen yang sempat terkubur selama lebih dari dua dekade. Lagu yang berakar dari gagasan awal 2000-an tersebut akhirnya kembali menemukan bentuknya dan dirilis pada 20 Maret 2026, membawa serta karakter musik yang mentah, kasar, gelap, dan tidak berusaha menyenangkan semua orang. Metadata platform musik juga mencatat “Crawling 2” berdurasi sekitar 3 menit 20 detik.
Kembalinya D.B.D bukan sekadar tentang merilis lagu lama yang kembali diproduksi. “Crawling 2” menjadi semacam bukti bahwa sebuah proyek yang pernah berhenti masih dapat menemukan alasan untuk bergerak lagi, bahkan setelah dua puluh tahun lebih berlalu.
💿 Tentang Crawling 2:
Crawling 2 membawa kisah tentang kebangkitan. Lagu ini berasal dari periode awal perjalanan D.B.D, tetapi berbagai persoalan membuatnya tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk benar-benar lahir pada masanya.
Ketika D.B.D dibangun kembali, karya tersebut kembali dibuka dan dikerjakan dengan pendekatan yang sesuai dengan kondisi mereka sekarang. Hasilnya bukan produksi yang terlalu dipoles, melainkan sebuah lagu dengan karakter raw, agresif, dan penuh tekanan.
Vokal yang mentah, sound yang kasar, serta lirik yang tajam menjadi bagian dari identitas Crawling 2. Bahkan sebelum perilisan, materi lagu ini sempat memunculkan kontroversi karena penggunaan umpatan dan kritik yang dianggap cukup keras. Namun bagi D.B.D, karakter tersebut justru menjadi bagian dari keberanian untuk menyampaikan sesuatu tanpa terlalu banyak membungkusnya.
Di balik suara keras tersebut terdapat gagasan tentang bertahan, bangkit, dan menghadapi kembali sesuatu yang sempat dianggap selesai.
D.B.D menyebut kebangkitan ini dengan satu kalimat:
“The Dragon Has Awaken.”
Sebuah pernyataan yang terasa tepat untuk proyek yang telah “tertidur” selama lebih dari dua dekade.
🎶 Nuansa Musikal:
Crawling 2 berdiri di persimpangan Alternative, Nu Metal, dan Rap Rock, dengan pendekatan yang mengingatkan pada energi musik rock dan nu metal era awal 2000-an.
D.B.D menyebut sejumlah pengaruh seperti Linkin Park, Limp Bizkit, Evanescence, P.O.D., Rage Against the Machine, Beastie Boys, Slipknot, Papa Roach, hingga Metallica sebagai bagian dari DNA musikal yang ikut membentuk arah proyek tersebut.
Perpaduan riff gitar berat, rap, vokal agresif, atmosfer gelap, dan produksi yang sengaja mempertahankan karakter kasar membuat Crawling 2 tidak terdengar seperti karya yang dibuat untuk mengejar kesempurnaan teknis semata. Ia justru ingin mempertahankan rasa “liar” yang menjadi bagian dari identitas D.B.D.
Proses produksinya sendiri berlangsung melalui kolaborasi lintas Jakarta dan Bali. Produksi tersebut membutuhkan waktu sekitar tiga bulan, dengan proses mixing dan mastering dilakukan di Jakarta sementara Droobie berbasis di Bali.
Karakter tersebut membuat Crawling 2 cocok ditempatkan dalam ruang musik alternatif dan underground, musik yang tidak selalu datang untuk memberikan kenyamanan, tetapi terkadang justru hadir untuk mengusik.
🙍 Tentang D.B.D:
D.B.D merupakan proyek musik independen yang memiliki sejarah panjang. Formasi awal mereka sempat mengalami berbagai perubahan hingga akhirnya berhenti dan terkubur selama lebih dari dua dekade.
Dalam perjalanan tersebut, salah satu gitaris mereka meninggal dunia, drummer kemudian memilih menjadi pemain reguler/session player, sementara gitaris lainnya memutuskan untuk pindah. Formasi berikutnya pun tidak berhasil mempertahankan proyek setelah perjalanan mereka dalam sebuah kompetisi berakhir.
Performer:
- Droobie (Vokal utama, rap, vokal latar)
- Burn (gitar bass, vokal latar)
- Deathhollow (vokal, gitar listrik, gitar, paduan suara, vokal latar, direktur musik)
- Opik (drum, gitar utama, pemrograman, direktur musik)
Namun, vokalis sekaligus pendiri Deathhollow memilih untuk tidak membiarkan cerita tersebut berakhir begitu saja.
Dalam kebangkitan D.B.D, ia menggandeng Droobie, rapper asal London yang kini menetap di Bali, serta Burn pada bass. Ketiganya kemudian menjadi bagian dari formasi baru yang membawa kembali identitas D.B.D ke dalam bentuk yang berbeda.
Nama D.B.D sendiri memiliki dua lapisan makna. Pertama, merupakan singkatan dari Droobie, Burn, dan Deathhollow. Kedua, menjadi metafora dari “Demam Berdarah”, yang kemudian diperkuat melalui identitas visual berupa logo nyamuk mekanikal yang provokatif.
Kini, proyek yang berbasis pada poros Jakarta–Bali tersebut mencoba membawa suara independennya keluar dari ruang lokal. “Crawling 2” mulai mendapatkan pendengar dari berbagai negara dan menjadi titik awal baru bagi D.B.D untuk memperkenalkan musik mereka ke audiens yang lebih luas.
🎧 Dengarkan Sekarang:
Single "Crawling 2" Sudah tersedia dan dapat dinikmati di Spotify, YouTube Dan Berbagai Platform Musik Digital Yang Ada.
📎 Kredit Lagu:
● Judul: Crawling 2
● Artis: D.B.D
● Ciptaan: Edward Prawira & Andrew Wissenmann
● Aransemen: D.B.D
● Produser: D.B.D & Opik
● Mixing & Mastering: Opik
● Rilis: 20 Maret 2026
● Genre: Alternative/Nu Metal/Rap Rock
● Label: Independen
● Recording: D.B.D
📩 Kontak & Media Sosial:
● Cp: 08112188866 (Edward Prawira)
● Instagram: @d.b.dofficial
📍Tintakusamku:
○ Email: kusamredaksi@gmail.com
○ Instagram: @tintakusamkumedia
0 Komentar