TIBIAST:“King, Rapist, Pedophile” Menelanjangi Kemunafikan Penguasa Melalui Kritik Tanpa Kompromi

    TIBIAST

Kekuasaan kerap tampil dengan wajah yang meyakinkan. Seragam, lencana, dan simbol kehormatan dapat membangun citra seorang pelindung, tetapi tidak selalu mencerminkan apa yang tersembunyi di baliknya. Ketika moralitas dijadikan topeng dan otoritas digunakan untuk menindas, musik dapat menjadi medium untuk membongkar kepalsuan tersebut.

Berangkat dari kemarahan terhadap hipokrisi dan penyalahgunaan kekuasaan, unit groove metal asal Bandung, Tibiast, merilis single terbaru bertajuk “King, Rapist, Pedophile” pada 9 Oktober 2026. Mengusung pendekatan lirik yang frontal dan karakter musik yang agresif, lagu ini menjadi bentuk konfrontasi terhadap figur-figur berkuasa yang berlindung di balik citra suci, sementara tindakan mereka justru bertentangan dengan nilai yang mereka tampilkan.

Bukan sekadar meluapkan kemarahan melalui musik keras, Tibiast menjadikan single ini sebagai pernyataan sikap terhadap ketimpangan, kemunafikan, dan penderitaan mereka yang hak-haknya direnggut oleh kekuasaan. Lagu tersebut juga menjadi fondasi menuju EP mendatang, dengan dukungan kerja sama bersama Disaster Records dan Coexist Music.

💿 Tentang King, Rapist, Pedophile:

    ARTWORK KING, RAPIST, PEDOPHILE

King, Rapist, Pedophile membawa pendengar ke dalam narasi gelap tentang wajah ganda kekuasaan. Lagu ini menyoroti sosok figur otoriter yang digambarkan melalui simbol-simbol seperti prajurit, lencana, dan baret, atribut yang lazim diasosiasikan dengan kehormatan, perlindungan, dan otoritas.

Namun, di balik citra sebagai penyelamat, terdapat sisi lain yang menjadi sasaran kritik Tibiast: kemunafikan, penyalahgunaan wewenang, dan tindakan keji yang tersembunyi dari pandangan publik. Kontras antara penampilan yang terhormat dan perilaku yang merusak menjadi inti dari pesan lagu ini.

Pemilihan judul yang lugas dan provokatif mempertegas karakter konfrontatif tersebut. Tibiast tidak berusaha membungkus kemarahannya dengan bahasa yang halus. Sebaliknya, mereka menggunakan pernyataan frontal untuk menyoroti persoalan yang dianggap terlalu serius untuk disampaikan secara samar.

Salah satu penggalan liriknya berbunyi, “I should’ve hang your head on the muzzle of the rifles.” Kalimat tersebut menghadirkan gambaran kemarahan yang ekstrem dan dapat dibaca sebagai ekspresi simbolis atas keinginan untuk menghadapkan pelaku kejahatan pada konsekuensi tindakannya.

🎶 Nuansa Musikal:


Ketajaman pesan King, Rapist, Pedophile diperkuat melalui pendekatan produksi yang mempertahankan karakter raw dan organik. Alih-alih mengejar suara metal modern yang sangat steril, Tibiast memilih menghadirkan tekstur musik yang kasar, intens, dan terasa langsung menghantam pendengarnya.

Distorsi gitar yang garang, dinamika drum yang organik, serta vokal lantang dengan artikulasi penuh tekanan menjadi bagian penting dari karakter lagu ini. Setiap elemen diarahkan untuk menjaga energi agresif yang sejalan dengan tema kemarahan dan perlawanan.

Pendekatan tersebut memberikan ruang bagi karakter groove metal Tibiast untuk tetap terasa kuat tanpa kehilangan kesan mentahnya. Kekasaran suara bukan sekadar pilihan estetika, melainkan bagian dari cara mereka membangun atmosfer yang sesuai dengan pesan lagu.

Meski mempertahankan karakter raw, proses mixing dan mastering tetap dikerjakan dengan perhatian terhadap standar kualitas audio musik metal. Rafly Marsudhia menangani proses mixing dan mastering, sementara Tibiast bertindak sebagai produser.

🙍 Tentang Tibiast:


Tibiast merupakan unit groove metal asal Bandung yang menyalurkan keresahan dan kemarahan melalui musik dengan karakter agresif serta lirik yang konfrontatif. Dalam single King, Rapist, Pedophile, mereka mengangkat persoalan kemunafikan, ketimpangan, dan penyalahgunaan kekuasaan sebagai tema utama.

Melalui perpaduan distorsi gitar yang kasar, permainan drum yang organik, dan vokal penuh tekanan, Tibiast membangun identitas musikal yang selaras dengan pesan yang ingin mereka sampaikan.

Kehadiran single ini juga menandai langkah lanjutan perjalanan mereka menuju EP mendatang, dengan dukungan Disaster Records dan Coexist Music. Bagi Tibiast, musik menjadi ruang untuk menyampaikan sikap, mengangkat persoalan yang dianggap penting, dan menantang citra yang dibangun oleh pihak-pihak yang memiliki kuasa.

Dengan King, Rapist, Pedophile, Tibiast menghadirkan karya yang menempatkan kemarahan sebagai energi kreatif sekaligus medium kritik. Sebuah rilisan yang mengajak pendengarnya untuk melihat lebih jauh dari simbol kehormatan dan mempertanyakan apa yang sesungguhnya tersembunyi di baliknya.

🎧 Dengarkan Sekarang:

Single "King, Rapist, Pedophile" Sudah tersedia dan dapat dinikmati di Spotify, YouTube Dan Berbagai Platform Musik Digital Yang Ada.

📎 Kredit Lagu:

● Judul: King, Rapist, Pedophile
● Artis: Tibiast
● Ciptaan: Michael Hillarry, Rafly Marsudhia, Kiming Toura, Fikry Yudhapratista
● Aransemen: Michael Hillarry, Rafly Marsudhia, Kiming Toura, Fikry Yudhapratista
● Rilis: 9 Oktober 2026
● Genre: Groove Metal/Rock
● Produser: Tibiast
● Mixing & Mastering: Rafly Marsudhia
● Label: Disaster Records, Coexist Music
● Recording: Tibiast

📩 Kontak & Media Sosial

● Cp: 088218171891 (Jemy)
● Email: tibiastofficial@gmail.com
● Instagram: @tibiast.official




📍Tintakusamku:

○ Email: kusamredaksi@gmail.com
○ Instagram: @tintakusamkumedia

Posting Komentar

0 Komentar